Agama secara teologis adalah pedoman dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, manusia dan alam lingkungannya. Semua agama memiliki aturan dasar dalam hal ini. Tetapi meskipun semua agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manisia dan manusia dengan alam sekitarnya, namun demikian jarak aturan yang satu dengan yang lain sangat berbeda. Jarak aturan yang berbeda tersebut terutama berkaitan dengan konsepsi atau ajaran tentang ketuhanan dan sistem ritualnya. Tidak ada ajaran agama yang sama terkait dengan Tuhan atau dimensi teologis dan juga peribadahan. Namun demikian pesan kemanusiaannya bisa saja memiliki similaritas, misalnya harus saling menghargai kemanusiaan. Tentu saja dengan varian-varian yang bisa saja berbeda-beda. Continue Reading »
MEMERANGI TERORISME MELALUI KEADILAN GLOBAL
Salah satu isu yang sangat mengedepan terkait dengan terorisme adalah ketiadaan keadilan terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia. Kaum teroris sering menjadikan isu Palestina, Irak, Afghanistan, Filipina Selatan, Thailand Selatan dan sebagainya sebagai isu untuk membangun kebencian terhadap dunia barat, khususnya Amerika Serikat. Kebencian terhadap barat ini tentu saja dikaitkan dengan tindakan barat yang selalu semena-mena terhadap umat Islam. Makanya, hampir seluruh pernyataan yang dikeluarkan oleh kaum teroris menunjukkan kebenciannya yang sangat tinggi. Continue Reading »
PERLU KEBIJAKAN BARU MELAWAN TERORISME
Kita sungguh tidak tahu kenapa para teroris itu senang bersembunyi di Indonesia. Apakah Indonesia memang tempat yang tepat untuk bersembunyi ataukah di Indonesia banyak yang melindungi. Atau bisa jadi karena jaringan terorisme di Indonesia sudah sangat kuat. Ada banyak pertanyaan yang memang tidak mudah dijawab. Continue Reading »
KHITTAH POLITIK NU BELUM SELESAI
Saya diundang oleh PBNU dalam acara Civic Education yang diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya, Surabaya, kemarin (12/03/2010). Acara ini dihadiri oleh Kyai-kyai Muda NU seluruh Jawa Timur dan juga Prof. Dr. Masykuri Abdillah, dari UIN Jakarta. Selain saya, yang menjadi pemateri adalah KH. Miftahul Achyar, Dr. Wahidah, MA, Pembantu Dekan I Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel dan Prof. Dr. Kacung Marijan, MA dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mas’ud Said, dari Universitas Muhammadiyah Malang. Ketepatan saya diberi tema “Keragaman dan Toleransi”. Di antara sekian banyak kyai yang bertanya, maka ada sebuah pertanyaan yang rasanya perlu saya apresiasi. Pertanyaan itu secara substansial ialah: “apakah khittah NU sudah selesai? Continue Reading »
KERAGAMAN DAN TOLERANSI
Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi
Guru Besar Sosiologi dan Rektor IAIN Sunan Ampel[1]
Pengantar
Secara hakiki, bahwa tidak ada manusia yang hidup sendirian di dunia ini. Seseorang pasti membutuhkan lainnya dalam menjalani kehidupan. Di dalam cerita keagamaan, maka ketika Nabi Adam hidup sendirian di surga, maka beliau kesepian. Ketika beliau melamun seorang diri, maka datanglah kemudian Hawwa yang kemudian menjadi kawannya. Maka, ketika Nabi Adam dipindahkan ke dunia, maka kemudian Hawwa menjadi isterinya. Dari dua orang inilah kemudian menghasilkan manusia yang jumlahnya sangat banyak dengan bergolongan-golongan, dalam etnis, suku dan bahasa. Continue Reading »
ADAKAH DEMONSTRASI BERKEADABAN?
Apakah ada demo berkeadaban? Secara teoretis mestinya ada. Secara konseptual mestinya juga ada. Jika secara empiris ternyata sulit didapatkan, tentu ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Ada gap antara das sein dan das solen. Sesungguhnya, melakukan demonstrasi adalah bagian dari proses demokrasi. Demonstrasi adalah bagian dari cara untuk menyampaikan gagasan kepada pihak lain, ketika cara yang sangat lazim, misalnya musyawarah tidak lagi bisa dilakukan. Di dalam hal ini, maka demonstrasi bisa dijadikan sebagai instrument untuk artikulasi kepentingan. Continue Reading »
DEMONSTRASI SANTUN
Ketika terjadi demonstrasi yang anarkhis sebagaimana dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Makassar yang disebabkan oleh penyerangan polisi terhadap Kantor HMI, maka Mendiknas menghimbau agar di dalam melakukan demonstrasi hendaknya dilakukan dengan santun dan tidak anarkhis. Himbauan ini tentu saja menjadi penting di tengah keinginan bersama untuk membangun masyarakat Indonesia berbasis pada kesopanan dan keadaban. Continue Reading »
ALASAN STRATEGIS MENJADI UIN
Hari Ahad, 7/03/2010, segenap pimpinan IAIN Sunan Ampel memperoleh suntikan pemahaman yang sangat menarik dari Dr. Afandi Muchtar, MA, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Kedatangan beliau terkait dengan kegiatan mencermati proposal konversi IAIN Sunan Ampel ke UIN Sunan Ampel. Untuk kepentingan merumuskan proposal yang perfect memang secara sengaja diundang beberapa ahli. Selain Dr. Afandi Muchtar, juga dilakukan konsultasi dengan Prof. Abu Amar dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Agus Zainal dkk dari ITS dan juga akan menyusul yang lain. Melalui beberapa kajian dan konsultasi diharapkan akan menghasilkan proposal yang memadai. Continue Reading »
RELIGION’S WAY OF KNOWING
Di dalam bukunya, Arthur J. D’Adamo, menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya konflik bernuansa agama adalah yang dikonsepkan sebagai religion’s way of knowing, yaitu konflik yang disebabkan oleh sebuah standart tentang agamanya sendiri yang diyakini kebenarannya sepenuhnya, yaitu: 1) bersifat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran yang tanpa kesalahan samasekali, 2) bersifat lengkap dan final—dan karena itu tidak diperlukan kebenaran dari agama lain, 3) kebenaran agamanya sendiri dianggap merupakan satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan dan pembebasan, dan 4) seluruh kebenaran itu diyakini original dari Tuhan. Tidak ada konstruksi manusia. Continue Reading »
ADA APA DENGAN TOLERANSI BERAGAMA?
Pada hari Selasa, 02/03/2010, saya diundang untuk acara talkshow di Televisi SBO. Selain saya juga diundang Pendeta Sumardiyanto, dari Gereja Kristen Jawi Wetan, sebagai narasumber. Acara dikemas untuk membincang tentang aliran-aliran baru dalam agama-agama di Indonesia. Acara ini juga dikemas dalam perbincangan yang mengundang penanya dari pemirsa. Talkshow ini menjadi menarik sebab banyak pertanyaan dari pemirsa di seputar hubungan antar agama yang memang menjadi daerah paling rawan dalam kehidupan umat manusia. Continue Reading »
KRIMINALISASI PELAKU NIKAH SIRI: SOLUSI ATAU PROBLEM BARU
Saya kemarin sore, 5/03/2010, menjadi keynote speaker dalam acara yang diusung oleh LSM Jatim one dalam acara responsi terhadap rencana menerbitkan Undang-Undang Nikah Siri. Yang menjadi nara sumber adalah KH. Abdurahman Nafis (tokoh NUdan MUI Jawa Timur) dan Yayuk Istichanah, tokoh LSM yang bergerak di dalam aktivitas gender di Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh gender Jawa Timur, mahasiswa, aktivis dan pengurus LSM Jatim One. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Continue Reading »
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BERBASIS GENDER
Hari ini saya diminta untuk memberikan sambutan pada pembukaan acara yang diselenggarakan oleh ELOIS bekerjasama dengan PSG IAIN Sunan Ampel dan kepala Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah se Jawa Timur dalam Program Pengembangan Madrasah Berbasis Kesetaraan gender. Persoalannya adalah mengapa kesetaraan gender masih menjadi topic utama di dalam berbagai pelatihan di berbagai lembaga pendidikan, dan apa perlunya hal tersebut dilakukan. Continue Reading »
MENJADI UIN ANTARA TANTANGAN DAN HARAPAN
Membaca tulisan mahasiswa tentang Konversi IAIN Sunan Ampel ke UIN Sunan Ampel, saya merasa bangga. Apapun response mahasiswa terhadap rencana konversi dari IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel adalah bagian dari rasa memiliki terhadap institusinya. Tulisan di buletin Coret yang diterbitkan oleh mahasiswa, memang secara khusus dalam satu edisi membahas tentang rencana konversi tersebut. Di antara tulisan itu ada yang pro dan kontra. Tetapi yang paling mendasar adalah tentang kekhawatiran mahasiswa mengenai persoalan pasca menjadi UIN Sunan Ampel, apakah institusi ini akan tetap memelihara Ilmu keislaman? Siapa yang akan memelihara ilmu keislaman? Apakah ilmu keislaman tidak akan terpinggirkan? Continue Reading »
SEKALI LAGI PLURALISME GUS DUR
Ketika saya membaca tulisan Sirikit Syah di Warta BAZ (Badan Amil Zakat Provinsi Jawa Timur), tentang Pluralisme Kebablasan, menurut saya ada hal yang memang harus dipahami secara komprehensip. Salah satu yang cukup mengganggu saya adalah ketika disebutkan bahwa Gus Dur adalah termasuk orang yang berkeyakinan bahwa semua agama sama. Ada pertanyaan yang harus saya kemukakan, bahwa apakah benar Gus Dur sampai tahapan berpikir seperti itu. Apakah Gus Dur sampai pada keyakinan bahwa semua agama secara teologis sama. Pertanyaan ini yang menurut saya perlu diklarifikasi sebab bisa mengandung “kesalahan” konseptual tentang pluralisme Gus Dur. Continue Reading »
MENDORONG KAUM PEREMPUAN BELAJAR
Kesadaran kaum perempuan untuk belajar sesungguhnya sudah dimulai semenjak Raden Ajeng Kartini mendobrak tradisi keluarga Jawa untuk menyekolahkan anak-anaknya dan tidak mengawinkannya di usia yang masih dini. Hal itu terjadi tidak saja di kalangan orang awam atau rakyat jelata, tetapi juga di kalangan bangsawan atau kaum ningrat. Terbukti bahwa RA. Kartini sendiri dikawinkan di usia muda dan tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara saudara lelakinya diberi kesempatan untuk belajar lebih tinggi. Artinya, meskipun kesadaran berpedidikan sudah dilakukan ketika itu, maka masih kalah dibandingkan tentang kesadaran menyekolahkan anak-anak lelaki. Continue Reading »